SELAMAT DATANG DI WEB SITE PT. ANTAKO WISENA
Pencarian This Site The Web
  
Banner
PENGENDALIAN TERPADU KUMBANG TANDUK (Oryctes rhinoceros)

PENGENDALIAN TERPADU

KUMBANG TANDUK (Oryctes rhinoceros)

DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

 Oleh : Tri Hartanto

 Hama kumbang tanduk Oryctes rhinoceros merupakan hama utama pada perkebunan kelapa sawit dan menyerang tanaman kelapa sawit yang baru ditanam di lapangan sampai berumur 2,5 tahun. Kumbang ini jarang sekali dijumpai menyerang kelapa sawit yang sudah menghasilkan (TM). Namun demikian, dengan dilakukannya pemberian mulsa tandan kosong kelapa sawit (TKS) yang lebih dari satu lapis, maka masalah hama ini juga dijumpai pada areal TM. Pada areal replanting kelapa sawit, serangan kumbang dapat mengakibatkan tertundanya masa berproduksi sampai satu tahun dan tanaman yang mati dapat mencapai 25%.

Serangan kumbang tanduk (Oryctes Rhinoceros) pada perkebunan kelapa sawit apabila tidak dikendalikan secara terpadu tidak akan memberikan hasil yang optimal. Siklus hidup kumbang tanduk yang berlangsung relatif cukup lama membuat keberadaan hama ini di lokasi perkebunan yang terserang populasinya akan semakin tinggi dan dapat menimbulkan kerusakan tanaman kelapa sawit yang sangat parah. Untuk pengendalian yang efektif perlu diketahui secara baik siklus hidup kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros).

Keseluruhan waktu yang dilalui untuk mencapai satu siklus hidup dari kumbang tanduk  berkisar  antara 1 s/d 2 tahun.   Lamanya  siklus hidup ini yang membuat populasi hama ini  se-olah olah tidak pernah habis. Walaupun penggunaan pestisida sudah dilaksanakan secararutin dengan interval penggunaan yang berkisar antara 1 s/d 2 minggu ternyata populasi hama tetap saja tidak berkurang bahkan semakin bertambah hal mana tugas kebun termasuk para manager dan pemilik kebun menjadi frustasi. Beberapa kasus terjadi akibat serangan hama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) ini, pemilik kebun terpaksa ha-rus melaksanakan penyulaman, atau bahkan terpaksa menjual kebun sawitnya kepada investor lainnya.

Pengendalian kumbang tanduk secara terpadu selalu memberikan hasil pengendalian yang terbaik dan dalam waktu yang relative singkat, dapat menurunkan populasi kumbang tanduk di perkebunan Kelapa Sawit.  Syarat dilaksanakannya pengendalian terpadu adalah dilaksanakannya berbagai macam cara pengendalian pada satuan luas perkebunan kelapa sawit pada saat yang bersamaan. Beberapa cara pengendalian tersebut adalah sebagai berikut:

1. Penggunaan Insektisida Marshal 5 G

Marshal 5 G merupakan insektisida sistemik yang mengandung bahan aktif Karbosulfan 5 % sangat efektif mengendalikan kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) dan telah mendapatkan rekomendasi dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Penggunaan Marshal 5 G sangat dianjurkan untuk melaksanakan pencegahan sebelum kumbang tanduk (oryctes rhinoceros) menyerang.Dosis penggunaanya dengan cara ditabur di bagian pucuk tanaman dengan dosis 9 – 15  gr/pucuk/pangkal pelepah muda dengan interval 3 minggu s/d 1 bulan.  Marshal 5 G selain dapat meracuni kumbang tanduk yang memakan bagian pucuk yang telah di beri perlakuan juga dapat mencegah serangan disebabkan bahan aktif Marshal 5 G juga dapat mengeluarkan uap yang dapat mencegah terjadinya serangan. Keunggulan Marshal 5 G antara lain :

  • Bahan aktif marshal 5 G bersifat kontak dan sistemik, sehingga dapat lebih cepat mengendalikan kumbang tanduk.
  • Ramah lingkungan dan selektif terhadap hama sasarandan tidak membunuh musuh alami hama.
  • Formula ampuh Marshal 5 G dengan dosis 9 – 15 gr/pohon dapat mengurangi serangan kumbang tanduk hingga 80 % dalam waktu 4 – 8 Minggu.

“ Lindungi Investasi Anda di Masa Emas Pertumbuhannya”

“ Cegah Oryctes – Investasi sukses”

“Taburan Marshal membuat kumbang tanduk buyar”

2. Penggunaan Insektisida Hayati

 Ada dua Insektisida hayati yang sangat efektif mengendalikan larva kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) diantaranya adalah :

  • Metarizeb (Metarhizium anishopliae)
  • BT- Plus (Bio Insektisida dan Bio Nematisida)

Metarizeb adalah insektisida hayati berbentuk tablet yang bisa dilarutkan dalam air berbahan aktif  jamur Metarizhium anisophale yang sangat efektif mengendalikan kumbang tanduk pada stadium Larva. Metarizeb selain mengandung jamur metarizium anishopale juga mengandung berbagai bahan aktif diantaranya adalah:

  • Bacillus thuringiensis.
  • Beuvaria Basianna.
  • Cordicep sp.

 Metarizeb dapat mengendalikan kumbang tanduk dengan cara menginveksi larva sehingga larva tidak dapat berkembang ke instar berikutnya.  Infeksi terjadi setelah terjadi kontak antara bahan aktif metarizeb dengan larva. Waktu yang dibutuhkan mulai infeksi sampai kematian larva berkisar 3 s/d 4 minggu. Larva yang terinfeksi terlihat di penuhi miselia dari jamur metarizhium anisophale.

 BT-Plus adalah bio insektisida dan bio nematisida berbentuk serbuk tepung yang memiliki efek ganda dalam menginfeksi hama, karena memiliki kandungan dua jenis bakteri yaitu: Serratia marcescens dan Bacillus thuringiensis. Setiap 50 gr (1 bks) BT-Plus mengandung 107 – 109 CFU/gram yang terdiri dari : bakteri merah Serratia marcescens yang bersifat kontak dan  Bacillus thuringiensis sebagai penghasil racun pencernaan. Dengan demikian, BT-Plus dapat menginfeksi hama dengan 2 cara yakni secara kontak dan melalui racun pencernaan.

Bakteri Merah Serratia marcescens adalah entomopatogen kontak yang bersifat fakultatif aerob dan memiliki kemampuan untuk hidup pada keadaan ekstrim (lingkungan terkena antiseptik, desinfektant dan air destilasi), serta menghasilkan enzym hydrolitik yang bersifat toksin. Bakteri Merah Serratia marcescens masih dapat hidup dan berkembang dengan baik pada kedalaman 1 meter dari permukaan tanah. Hal ini dapat membuat Bakteri Merah Serratia marcescens  juga dapat menginfeksi ulat tanah dan nematoda.

Aplikasi insektisida hayati difokuskan untuk mengendalikan larva kumbang tanduk yang keberadaannya terkonsentrasi utamanya di bawah rumpukan – rumpukan di antara barisan tanaman sawit,   terutama pada rumpukan rumpukan yang masih relatif baru yang usianya masih dibawah 2 tahun.  Kondisi bawah rumpukan yang dingin dan lembab dan relatif terlindung menjadi tempat yang sesuai bagi kumbang tanduk untuk bermetamorfosa. Populasi Larva kumbang tanduk biasanya cukup banyak pada rumpukan ex vegetasi pohon Nipah, berdasarkan hasil pengamatan dilapangan di beberapa perkebunan kelapa sawit, populasi larva kumbang tanduk sangat tinggi di rumpukan lahan ex vegetasi nipah. Sehingga problem utama perkebunan kelapa sawit yang vegetasi awalnya pohon Nipah adalah tingkat serangan hama kumbang tanduk pada TBM relatif tinggi.

Cara aplikasi insektisida hayati Metarizeb dan BT-Plus adalah dengan cara injeksi rumpukan menggunakan nosel injeksi (Nosel khusus) pada kedua sisi rumpukan dengan jarak masing masing injeksi 3  meter. Injeksi dilakukan selama 4 detik setara dengan 300 ml larutan (perlu kalibrasi ulang di Lapangan). Bila menggunakan Knapsack Sprayer dengan kapasitas 15 liter maka 1 sprayer akan bisa menghasilkan (15.000/300) = 50 injeksi. Untuk 1 jalur rumpukan sepanjang 300 meter total injeksi yang diperlukan [(300/3)x2] = 200 injeksi setara dengan 4 Knapsack Sprayer.

Penyemprotan dan Injeksi Rumpukan BT-Plus dan Metarizeb dimaksudkan untuk mengendalikan larva kumbang tanduk dan berdasarkan pengamatan lapangan mortalitas larva akan semakin meningkat dimulai pada 2 Bulan setelah aplikasi (BSA) s/d 6 BSA.

 3. Penggunaan Feromonas (Feromone Sex)

Feromonas adalah senyawa kimia berbahan aktif Ethyl 4-Methyloctanoate yang dapat mengeluarkan aroma khusus sedemikian sehingga dapat mengundang imago/kumbang dewasa untuk terbang mendekati sumber aroma yang membangkitkan gairah sex kumbang tanduk. Imago kumbang tanduk yang berada di sekitar feromonas akan segera berdatangan.

Feromonas dilapangan di pasang pada Ferotrap (Perangkap) dan di letakkan di lapangan pada tiang gantungan khusus dengan ketinggian berkisar 1,5 – 2,0 meter di atas permukaan tanah.  Pemasangan ferotrap utamanya dilakukan untuk upaya pencegahan terhadap serangan kumbang tanduk.  Hanya saja yang sering terjadi di lapangan, ferotrap baru dipasang setelah tingkat serangan kumbang tanduk berada pada tingkatan yang sudah sangat tinggi.

Ferotrap di pasang pada gawangan mati dan setiap 1 ferotrap dapat mengcover 2 s/d 5 hektar. Pada tingkat pencegahan, pemasangan ferotrap di laksanakan di tepian luar batas kebun dengan kerapatan 1 ferotrap setiap 5 hektar lahan. Sedangkan pada tingkat serangan yang tinggi, pemasangan ferotrap dilakukan dengan kerapatan 1 ferotrap setiap 2 hektar lahan. Feromonas di pasang di setiap ferotrap dan mampu bertahan selama 2 – 3 bulan.

Perhitungan jumlah kumbang tanduk yang terperangkap di ferotrap dilaksanakan setiap 1 minggu dan berdasarkan pengalaman setiap 1 ferotrap dapat menangkap 5 – 10 kumbang per hari setara dengan 35 – 70 kumbang per minggu.

Hasil pengamatan atas pemasangan 400 Ferotrap di 1.600 ha lahan perkebunan sawit TBM di wilayah Sumsel terbukti dapat menangkap 120.000 kumbang selama 2 bulan.  Hasil tangkapan kumbang terus meningkat seiring bertambahnya waktu pengamatan.

Penurunan populasi kumbang tanduk akan berlangsung secara signifikan dan tingkat serangan akan menurun sampai pada kondisi yang tidak merugikan (di bawah ambang ekonomi) selama 6 – 9  bulan.

4. Pemasangan Jaring

Jaring yang terbuat dari bahan monofilamen sangat berguna untuk pengendalian kumbang tanduk.  Pemasangan jaring dilakukan bisa sebagai pagar individu dan juga sebagai pagar di batas luar kebun.

ndividu di setiap tanaman kelapa sawit, ongkos pasangnya lebih mahal dari harga bahan. Pengalaman di salah satu perkebunan kelapa sawit di Sumatra Selatan, biaya pemasangan jaring individu Rp. 2,000/pohon dengan perincian Rp. 500 harga jaring dan Rp. 1.500 upah pasang per pohon. Pemasangan jaring sebagai pagar individu dimaksudkan untuk melindungi tanaman kelapa sawit dari serangan kumbang tanduk. Upaya ini dapat melindungi tanaman dari serangan kumbang, hanya saja karena jaring harus di pasang secara i

Pemasangan jaring sebagai pagar di luar tapal batas kebun dapat dilaksanakan untuk mencegah masuknya hama kumbang tanduk dari wilayah luar. Jaring di pasang dengan batas bawahnya berada 1 meter di atas permukaan tanah.  Pemasangan jaring pagar ternyata juga ada kendalanya. Selain bisa menangkap kumbang tanduk juga bisa menangkap kalelawar sehingga dapat merusak jaring.

 5. Pembongkaran Rumpukan

Rumpukan sebagai seed bank dari larva kumbang tanduk seringkali menjadi pertimbangan bagi para manager lapangan kebun untuk dilakukan upaya pembongkaran dengan maksud memusnahkan larva kumbang tanduk yang berada di dalamnya.  Pada tingkat serangan berat, populasi larva di sepanjang rumpukan +/- sepanjang 300 meter dapat mencapai ratusan larva dari berbagai instar.  Hal ini memang menjadi bahaya laten bagi upaya pengendalian kumbang tanduk.  Bila upaya pengendalian hanya ditujukan kepada imago/kumbang dewasa, seringkali seolah olah populasi kumbang telah menurun drastis akan tetapi tidak lama kemudian populasi kumbang meningkat kembali dengan sangat pesat.  Peningkatan populasi secara mendadak tersebut dimungkinkan ketika Larva yang berada di bawah rumpukan telah berhasil bermatamorfosa menjadi kumbang dewasa.

Pada kondisi serangan hama kumbang tanduk yang sangat parah, management perusahaan kelapa sawit harus mengambil kebijakan yang suka tidak suka harus segera diputuskan mengenai pembongkaran rumpukan dan sekaligus menenggelamkannya ke dalam parit sebagaimana dilaksanakan oleh salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di wilayah sumatra selatan.

Pembuatan parit dimaksudkan untuk menenggelamkan seluruh rumpukan berikut larva kumbang tanduk.  Ukuran parit bervariasi tergantung kondisi lahan perkebunannya.  Yang pernah dilakukan di perkebunan kelapa sawit tersebut lebar atas parit 2 meter, dalam 2 meter dan lebar bawah parit 1,5 meter.

Secara jangka panjang, pembuatan parit sangat bermanfaat untuk menjamin ketersediaan air sepanjang tahun yang memang sangat dibutuhkan oleh tanaman kelapa sawit untuk dapat berproduksi secara maksimal.  Biaya awal pembuatan parit memang sangat mahal, tetapi secara jangka panjang sangat menguntungkan.

Kesimpulan :

Pengendalian atas serangan hama kumbang tanduk yang dilakukan secara tidak terpadu dan baru dimulai pada saat serangan yang sudah relatif tinggi seringkali tidak memberikan hasil yang memuaskan.  Pengendalian yang dilaksanakan pada tahapan pencegahan perlu di pertimbangkan untuk meminimalisir pengeluaran biaya.

Penggunaan pestisida pada konsep pengendalian terpadu adalah alternatif yang paling akhir yaitu ketika tingkat serangan hama sudah berada pada tahapan yang cukup tinggi di atas ambang ekonomi.  Hanya saja, kenyataan di lapangan sering kali penggunaan pestisida an organik kustru menjadi opsi utama didalam upaya pengendalian organisme pengganggu.

 Kunci keberhasilan pengendalian secara terpadu sesungguhnya tergantung kepada keefektifan upaya early warning system yang dilakukan oleh gugus tugas/team proteksi hama.  Hasil kegiatan monitoring dari team proteksi hama akan dapat memetakan kondisi perkembangan status serangan dari organisme pengganngu tanaman. Sehingga management lapangan dapat melaksanakan upaya pengendalian yang efektif dan efisien.

 Rekomendasi:

Pemasangan ferotrap + Feromonas di  batas kebun dengan kerapatan 1 unit  ferotrap setiap 5 – 6 ha, sesungguhnya dapat digunakan sebagai upaya early warning system untuk mendapatkan data populasi hama kumbang tanduk di suatu wilayah perkebunan kelapa sawit.

Stigma yang dianggap sebagai suatu kekhawatiran bahwa pemasangan ferotrap + Feromonas di suatu perkebunan akan mengundang hama kumbang tanduk dari wilayah lain sebenarnya tidak akan terbukti jika pemasangan ferotrap sudah sesuai dengan rekomendasi.

Sejalan dengan pemasangan ferotrap, upaya injeksi rumpukan dengan insektisida hayati (Metarizeb dan BT-Plus) perlu dilaksanakan untuk meningkatkan populasi musuh alami dari larva kumbang tanduk yang pada jangka panjang dapat menekan populasi larva di bawah rumpukan.  Pengendalian hama kumbang tanduk dengan menggunakan insektisida hayati (Metarizeb dan BT-Plus)  keberhasilannya membutuhkan waktu yang cukup lama dan perlu kesabaran dan keyakinan.

Untuk memberikan keyakinan ke pihak manajemen kebun, perlu dilakukan penelitian dalam skala kecil untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh Insektisida hayati untuk dapat secara efektif menginfeksi dan mematikan larva kumbang tanduk yang berada di bawah rumpukan.

Kontak Person :

Ir. Tri Hartanto

PT. Antako Wisena

www.antakowisena.com

admin@antakowisena.com

antakowisena@gmail.com

0711-888-9088 / 0811-714-327

 

 

PT. Antako Wisena

Komplek Puridemang Raya,
Blok F-18, Palembang
Sumatra Selatan, 30137
Indonesia

Telp. +62-851-0188-9088
+62-851-0331-3827
+62-811-714-327
Fax. +62-711-379-226

Yahoo Massenger